Secara fungsi, pelumas memiliki peran yang sama, mesin motor manual memiliki gearbox dan kopling yang menyatu dengan blok mesin, sehingga pelumas untuk mesin motor konvensional harus bisa melumasi mesin tanpa merusak komponen gearbox, terlebih kopling, karena kalau terlalu licin, kopling dapat selip dan mengakibatkan terbakar. Pelumas mobil secara umum tidak dapat melumasi kopling, sehingga sangat tidak cocok digunakan kepada mesin motor konvensional.
Mesin motor matic memiliki gearbox dan kopling terpisah dari blok mesin, sehingga pelumas hanya melumasi mesin saja, tanpa melumasi gearbox dan juga kopling. Hal ini sama dengan karakteristik mesin mobil yang memiliki kopling dan gearbox terpisah.
Perbedaan selanjutnya adalah antar mesin mobil dan mesin motor adalah suhu operasional, putaran mesin operasional, volume mesin dan kapasitas pelumas, serta daya kerja operasional. Secara teoritis, suhu operasional mesin motor lebih tinggi daripada suhu operasional mesin mobil karena absennya pendinginan stabil, atau radiator pada mesin motor, meski beberapa jenis motor sudah mengadopsi radiator, tetapi terkadang hal ini sering dilupakan para pemilik, sehingga fungsinya tidak optimal.
Selanjutnya adalah putaran mesin operasional motor lebih tinggi daripada mobil, tentu saja, mesin mobil memiliki lebih dari 1 silinder dengan kapasitas minimal 250cc per silinder, sehingga untuk menjalankan mobil tidak diperlukan tenaga putaran tinggi. Semakin banyak dan semakin tinggi kapasitas mesin, maka putaran operasionalnya makin rendah. Mobil bisa berjalan 100 Kmh dengan RPM hanya 2,500 RPM, sementara motor membutuhkan lebih dari 5,000 RPM untuk berjalan pada 100 Kmh. Tetapi perlu diperhitungkan, mobil berjalan 2,500 RPM dengan kondisi Long Stroke sementara motor berjalan 5,000 RPM dengan kondisi Short Stroke ingat pelumas bekerja untuk melumasi dinding silinder, piston, crankshaft, dan valve train, meski secara teoritis beban mobil terkesan ringan, tetapi secara volumetrik pelumasan lebih besar mobil berkali-kali lipat. Dan oleh sebab itu bisa dipastikan bahwa oli untuk mobil harus lebih baik daripada oli motor.
Ilustrasi: sebuah mobil dengan kapasitas mesin 3,500cc dan berat 2,200 Kg (1997 BMW E38 735iL) berjalan dengan kecepatan 160 Kmh hanya dengan 4,100 RPM di Tachometer.
Selanjutnya adalah volume mesin dan juga kapasitas pelumas. Dalam mobil berukuran mesin 1,000cc sampai 2,000 cc biasanya menggunakan 4 – 5 liter pelumas, itu berarti untuk dibutuhkan 2.5 mL pelumas untuk setiap cc mesinnya, sementara motor dengan kapasitas 100 cc – 125 cc membutuhkan pelumas 0.8 L, sehingga mesin motor membutuhkan 6.4 mL pelumas untuk setiap cc mesinnya. Hal tersebut tentu saja berpengaruh kepada tingkat retensi terhadap asam yang akan membuat pelumas cepat rusak. Secara rasio, seharusnya oli motor memiliki volumetrik lebih besar, dan itu berarti kerjanya lebih ringan dibandingkan mobil, apabila kita mengabaikan proses pelepasan panas.
Beban kerja sebenarnya tidak relevan apabila kita membandingkan motor dengan mobil, tetapi bisa kita jadikan acuan, bahwa kerja motor tidak seberat yang kita bayangkan.
Motor, Beban: 150 Kg | Kapasitas Silinder: 110 cc | Ratio Silinder/Beban = 0.733 (Paling ringan)
Mobil, Beban: 2,000 Kg | Kapasitas Silinder: 1,300 cc | Ratio Silinder/Beban = 0.65 (Moderate)
Truk, Beban: 20,000 Kg | Kapasitas Silinder: 8,000 cc | Ratio Silinder/Beban = 0.4 (Paling berat)
Asumsi semua kendaraan di atas di hitung termasuk pengemudi dan penumpang penuh, dari hitungan tidak relevan di atas, kita bisa simpulkan truk memiliki ratio paling berat dan motor paling ringan, sementara mobil tidak seberapa berat dibandingkan dengan truk. Ini acuan sederhana saja, sementara hitungan aslinya lebih rumit, tetapi bisa disimpulkan bahwa oli mereka bisa saling digunakan bergantian, ya bisa saling pakai tetapi memiliki limit masing-masing.
JOKER
Tuesday, October 4, 2016
Tuesday, August 2, 2016
Technical Properties pada Oli
Untuk dapat membedakan pelumas, produsen biasanya menggunakan datasheet sebagai acuan kepada user untuk dapat menentukan pelumas pilihannya. Properties pada datasheet mungkin beragam, tetapi ada 4 jenis yang biasanya menentukan, yaitu TBN Value, Kinematic Viscosity, Viscosity Index dan NOACK Volatility. Tidak semua produsen pelumas memberikan keterangan TBN dan NOACK Volatility, tetapi setidaknya kita bisa ketahui dari Kinematic Viscosity dan Viscosity Index.
Total Base Number atau TBN adalah satuan cadangan basa dalam pelumas yang Anda gunakan, bukan berarti pelumas tersebut bersifat basa, tetapi total banyaknya logam alkali atau alkali tanah yang bersifat basa di dalam pelumas tersebut dalam mencadangkan nilai mereka. Cara menentukan bagus atau tidaknya pelumas adalah dengan melihat nilai TBN-nya, apakah tinggi atau tidak. Semakin tinggi angka TBN, maka semakin baik pelumas untuk mereduksi asam yang terbentuk selama penggunaan. TBN akan terus turun hingga angka 1.0 dimana pelumas sudah tidak mengandung additives dan harus diganti.
Meskipun begitu, TBN Tinggi juga belum tentu baik, karena Chemical Properties lainnya yang mendukung juga harus diperhatikan, apakah bisa untuk long drain interval atau tidak. Contaminant seperti Sulfur akan membuat pelumas cepat kehilangan TBN yang dihitung dengan mg KOH/g. salah satu sumber sulfur adalah Bahan Bakar yang digunakan, misalnya yang paling umum adalah Pertamina Premium RON88
Kinematic Viscosity atau KV adalah nilai atau besaran viskositas suatu pelumas pada suhu operasional, biasanya diukur pada suhu 40'C dan 100'C. KV adalah tingkat kekentalan suatu pelumas dan hubungannya dalam melepas panas. KV juga memiliki batasan-batasan yang sudah diatur, antara lain adalah:
Untuk 100'C
Apabila pelumas memiliki Viscosity Grade 0W-30 tetapi memiliki Kinematic Viscosity 100'C 15.1 cSt, maka pelumas tersebut harus dipertanyakan kualitasnya. Perumpamaan KV pada air bersuhu 20'C adalah 1 cSt, itu berarti makin turun nilainya maka makin encer atau makin mudah mengalir. Viskositas pelumas sudah diatur sedemikian rupa, sehingga saat 100'C tidak boleh sama dengan air, maka persepsi salah apabila ada seseorang yang mengatakan “Oli X encer kayak air jadi tidak bisa melumasi dengan sempurna,” tanpa bukti empiris ucapan itu hanya hoax belaka. Karena semakin encer maka semakin baik base stock dan juga additives pack yang digunakan, sehingga oli dengan tingkat kekentalan rendah memiliki resistansi yang lebih baik pada mesin. Hal tersebut terbukti dengan maraknya mobil-mobil baru yang beredar malah menggunakan oli 0W-20 atau 0W-30, jadi tidak ada hubungannya antara encer dan melindungi.
Viscosity Index adalah nilai yang menentukan seberapa stabil pelumas pada suhu 40'C dan 100'C, makin tinggi nilainya, maka semakin stabil pelumas tersebut, dan semakin mahal harganya. Banyak orang beranggapan VI tidak dibutuhkan di negara Indonesia berdasarkan iklim, tetapi pantauan KV adalah pada 40'C dan 100'C sehingga nilai KV dibutuhkan untuk dianalisa guna menentukan seberapa baik nilai pelumas tersebut.
VI tertinggi dimiliki oleh pelumas dengan base stock Group III ke atas yaitu >140. Tetapi, tambahan additives akan mementukan seberapa nilai VI yang terbentuk, dan VI tidak dapat ditambah dengan additives post-mix. Sehingga jangan berharap menambah additives oli merek X akan menambah Viscosity Index pelumas yang Anda gunakan
Semakin tinggi rentang viskositas, semakin dibutuhkan Viscosity Index yang tinggi, maka oli dengan rentang viskositas 0W-50 sejatinya membutuhkan Viscosity Index yang lebih tinggi dari oli dengan rentang viskositas 0W-20. Dan semakin tinggi VI sebuah pelumas, sedikitnya akan menentukan pula seberapa panjang oli tersebut dapat digunakan.
Cold Cranking Simulator adalah metode testing yang dilakukan pada sebuah pelumas untuk mengetahui seberapa baik kualitas pelumas tersebut apabila diuji dalam suhu dingin. Biasanya pelumas akan diuji berdasarkan titik terendah yang disesuaikan dengan nilai Winter Viscosity.
Pelumas yang lulus uji dalam metode ini harus memiliki nilai Cold Cranking Simulator di bawah nilai tabel di atas. Semakin rendah nilai CCS sebuah pelumas, maka semakin baik pula kualitas pelumas pada saat suhu dingin. Memang di Indonesia hal seperti ini tidak terlalu dibutuhkan, tetapi semakin rendah nilai CCS sebuah pelumas, maka akan menjadi kebaikan saat dilakukan mesin dihidupkan pada pagi hari. Karena pelumas dengan nilai CCS rendah pasti akan melakukan perlindungan lebih optimal pada saat mesin pertama dihidupkan.
NOACK Volatility adalah banyaknya penguapan yang terjadi pada percobaan selama 1 jam dengan suhu 25'C, nilai tertinggi yang diperbolehkan untuk ILSAC GF-5 adalah 15%/g, sehingga semakin kecil nilainya maka pelumas juga akan semakin sulit untuk menguap.
TBN Value
Total Base Number atau TBN adalah satuan cadangan basa dalam pelumas yang Anda gunakan, bukan berarti pelumas tersebut bersifat basa, tetapi total banyaknya logam alkali atau alkali tanah yang bersifat basa di dalam pelumas tersebut dalam mencadangkan nilai mereka. Cara menentukan bagus atau tidaknya pelumas adalah dengan melihat nilai TBN-nya, apakah tinggi atau tidak. Semakin tinggi angka TBN, maka semakin baik pelumas untuk mereduksi asam yang terbentuk selama penggunaan. TBN akan terus turun hingga angka 1.0 dimana pelumas sudah tidak mengandung additives dan harus diganti.
Meskipun begitu, TBN Tinggi juga belum tentu baik, karena Chemical Properties lainnya yang mendukung juga harus diperhatikan, apakah bisa untuk long drain interval atau tidak. Contaminant seperti Sulfur akan membuat pelumas cepat kehilangan TBN yang dihitung dengan mg KOH/g. salah satu sumber sulfur adalah Bahan Bakar yang digunakan, misalnya yang paling umum adalah Pertamina Premium RON88
Kinematic Viscosity
Kinematic Viscosity atau KV adalah nilai atau besaran viskositas suatu pelumas pada suhu operasional, biasanya diukur pada suhu 40'C dan 100'C. KV adalah tingkat kekentalan suatu pelumas dan hubungannya dalam melepas panas. KV juga memiliki batasan-batasan yang sudah diatur, antara lain adalah:
Untuk 100'C
- SAE 0W : 3.8 cSt
- SAE 5W : 3.8 cSt
- SAE 10W : 4.1 cSt
- SAE 15W : 5.6 cSt
- SAE 20W : 5.6 cSt
- SAE 25W : 9.3 cSt
- SAE 20 : 5.6 cSt - 9.3 cSt
- SAE 30 : 9.3 cSt - 12.5 cSt
- SAE 40 : 12.5 cSt - 16.3 cSt
- SAE 50 : 16.3 cSt - 21.9 cSt
- SAE 60 : 21.9 cSt - 26.1 cSt
- SAE 70 : 26.1 cSt >
Apabila pelumas memiliki Viscosity Grade 0W-30 tetapi memiliki Kinematic Viscosity 100'C 15.1 cSt, maka pelumas tersebut harus dipertanyakan kualitasnya. Perumpamaan KV pada air bersuhu 20'C adalah 1 cSt, itu berarti makin turun nilainya maka makin encer atau makin mudah mengalir. Viskositas pelumas sudah diatur sedemikian rupa, sehingga saat 100'C tidak boleh sama dengan air, maka persepsi salah apabila ada seseorang yang mengatakan “Oli X encer kayak air jadi tidak bisa melumasi dengan sempurna,” tanpa bukti empiris ucapan itu hanya hoax belaka. Karena semakin encer maka semakin baik base stock dan juga additives pack yang digunakan, sehingga oli dengan tingkat kekentalan rendah memiliki resistansi yang lebih baik pada mesin. Hal tersebut terbukti dengan maraknya mobil-mobil baru yang beredar malah menggunakan oli 0W-20 atau 0W-30, jadi tidak ada hubungannya antara encer dan melindungi.
Viscosity Index
Viscosity Index adalah nilai yang menentukan seberapa stabil pelumas pada suhu 40'C dan 100'C, makin tinggi nilainya, maka semakin stabil pelumas tersebut, dan semakin mahal harganya. Banyak orang beranggapan VI tidak dibutuhkan di negara Indonesia berdasarkan iklim, tetapi pantauan KV adalah pada 40'C dan 100'C sehingga nilai KV dibutuhkan untuk dianalisa guna menentukan seberapa baik nilai pelumas tersebut.
VI tertinggi dimiliki oleh pelumas dengan base stock Group III ke atas yaitu >140. Tetapi, tambahan additives akan mementukan seberapa nilai VI yang terbentuk, dan VI tidak dapat ditambah dengan additives post-mix. Sehingga jangan berharap menambah additives oli merek X akan menambah Viscosity Index pelumas yang Anda gunakan
Semakin tinggi rentang viskositas, semakin dibutuhkan Viscosity Index yang tinggi, maka oli dengan rentang viskositas 0W-50 sejatinya membutuhkan Viscosity Index yang lebih tinggi dari oli dengan rentang viskositas 0W-20. Dan semakin tinggi VI sebuah pelumas, sedikitnya akan menentukan pula seberapa panjang oli tersebut dapat digunakan.
Cold Cranking Simulator
Cold Cranking Simulator adalah metode testing yang dilakukan pada sebuah pelumas untuk mengetahui seberapa baik kualitas pelumas tersebut apabila diuji dalam suhu dingin. Biasanya pelumas akan diuji berdasarkan titik terendah yang disesuaikan dengan nilai Winter Viscosity.
- SAE 0W | -35'C | 6,200 cP Max
- SAE 5W | -30'C | 6,600 cP Max
- SAE 10W | -25'C | 7,000 cP Max
- SAE 15W | -20'C | 7,000 cp Max
- SAE 20W | -15'C | 9,500 cP Max
- SAE 25W | -10'C | 13,000 cP Max
Pelumas yang lulus uji dalam metode ini harus memiliki nilai Cold Cranking Simulator di bawah nilai tabel di atas. Semakin rendah nilai CCS sebuah pelumas, maka semakin baik pula kualitas pelumas pada saat suhu dingin. Memang di Indonesia hal seperti ini tidak terlalu dibutuhkan, tetapi semakin rendah nilai CCS sebuah pelumas, maka akan menjadi kebaikan saat dilakukan mesin dihidupkan pada pagi hari. Karena pelumas dengan nilai CCS rendah pasti akan melakukan perlindungan lebih optimal pada saat mesin pertama dihidupkan.
NOACK Volatility
NOACK Volatility adalah banyaknya penguapan yang terjadi pada percobaan selama 1 jam dengan suhu 25'C, nilai tertinggi yang diperbolehkan untuk ILSAC GF-5 adalah 15%/g, sehingga semakin kecil nilainya maka pelumas juga akan semakin sulit untuk menguap.
Bisakah Pelumas Mobil Digunakan untuk Motor?
Secara umum, pelumas mesin mobil akan dapat digunakan untuk mesin motor matic, kalau untuk motor konvensional, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, karena ada karakteristik pelumas mobil yang sangat dilarang digunakan dalam mesin motor konvensional, hal yang perlu diperhatikan adalah:
Ilustrasi: Total Quartz 9000 Future GF-5 5W-30 pelumas Long Drain pertama yang diuji oleh TS hingga 10,000 Km di Honda Vario 110cc, memiliki sertifikasi yang dilarang untuk digunakan pada Motor Kopling Basah.
Apabila dahulu PCMO hanya bisa digunakan untuk motor matic saja, sementara pelumas HDEO bisa digunakan di motor matic atau motor manual, kini banyak yang menggunakan pelumas PCMO untuk motor dengan kopling basah, salah satu contohnya adalah ADNOC Voyager Silver 10W-40, Pertamina Fastron Techno 10W-40, dan Pertamina Fastron Fully Synthetic 0W-50. Penggunaan pelumas mobil pada motor akan menyebabkan beberapa dampak yang mungkin positif atau negatif tergantung kepada bagaimana Anda menanganinya. Tetapi, sepengalaman saya, penggunaan pelumas mobil lebih banyak efek positif ketimbang negatif-nya. Dan kita kembali ke rumusan awal, baik PCMO, HDEO, dan MCO adalah sama-sama Hydrocarbon Based, sehingga tidak masalah apabila Anda juga mau menggunakan MCO di mobil Anda, hanya saja limitasinya tambah banyak.
Ilustrasi: Total Quartz 9000 Future GF-5 5W-30 pelumas Long Drain pertama yang diuji oleh TS hingga 10,000 Km di Honda Vario 110cc, memiliki sertifikasi yang dilarang untuk digunakan pada Motor Kopling Basah.
- Mitos Jumlah Molybdenum, banyak yang mengatakan pelumas motor konvensional tidak boleh mengandung friction modifier semisal Molybdenum atau Titanium yang bersifat melincinkan dan meningkatkan nilai fuel efficiency yang salah-salah bisa membakar kopling motor kesayangan Anda. Padahal pada kenyataannya bukan Friction Modifier yang membuat kopling motor Anda selip, tetapi Organic Additives semacam Graphite yang membuat kopling Anda selip. Jika tidak percaya, coba lihat Jumlah Molybdenum pada Motul 300V 4T bahkan jauh lebih tinggi daripada Molybdenum pada PCMO sekalipun, tetapi dari user tidak pernah ada yang mengeluh kopling-nya selip. Perlu diketahui, Molybdenum, Boron, atau Titanium hanya bereaksi dengan Logam saja, tidak dengan komposit organic yang mungkin ada di Kopling.
- API Resources Conserving atau API Energy Conserving, pelumas dengan API Starburst pasti mengacu kepada fuel efficiency, sehingga pasti pelumas akan sangat licin dan tidak dapat melumasi dan melindungi kopling secara bersamaan. API RC/EC biasanya menuntut oli bisa digunakan dalam jangka waktu yg lama dengan state stay-in-grade, sehingga perlu banyak Organic Additives dan tidak cocok dengan komposit kopling.
- ILSAC GF-5, tidak disarankan digunakan dalam motor konvensional, karena sifatnya sama seperti API RC/EC menjamin oli dapat digunakan dalam waktu yang lama, dan bisa menghemat bahan bakar.
- German Approval Oil, ya seperti namanya German Approval, mengacu kepada Manufacturer Jerman, seperti BMW, VW, dan Mercedes Benz. pelumas dengan sertifikasi baru mereka tidak cocok dengan motor kopling basah, karena ditakutkan mengakibatkan selip kopling. Terlebih pelumas dari pabrikan mereka menuntut Sustain Release untuk beberapa additives dan itu bisa berdampak kepada motor dengan kopling basah.
Apabila dahulu PCMO hanya bisa digunakan untuk motor matic saja, sementara pelumas HDEO bisa digunakan di motor matic atau motor manual, kini banyak yang menggunakan pelumas PCMO untuk motor dengan kopling basah, salah satu contohnya adalah ADNOC Voyager Silver 10W-40, Pertamina Fastron Techno 10W-40, dan Pertamina Fastron Fully Synthetic 0W-50. Penggunaan pelumas mobil pada motor akan menyebabkan beberapa dampak yang mungkin positif atau negatif tergantung kepada bagaimana Anda menanganinya. Tetapi, sepengalaman saya, penggunaan pelumas mobil lebih banyak efek positif ketimbang negatif-nya. Dan kita kembali ke rumusan awal, baik PCMO, HDEO, dan MCO adalah sama-sama Hydrocarbon Based, sehingga tidak masalah apabila Anda juga mau menggunakan MCO di mobil Anda, hanya saja limitasinya tambah banyak.
Penggunaan Oli Mobil (PCMO/HDEO) untuk Motor
Pada kesempatan kali ini, mari kita diskusi salah satu topik yang paling sering kita pertanyakan selama ini, yaitu, bisakah menggunakan pelumas mobil untuk mesin motor kita?
Sebelum ada jawaban ya atau tidak, mari kita definisikan arti pelumas terlebih dahulu. Pelumas adalah zat kimia, yang umumnya adalah cairan, yang diberikan diantara dua benda bergerak untuk mengurangi gaya gesek. Pelumas pada umumnya dibagi ke dalam dua jenis, yaitu mineral dan sintetis. Pelumas mineral berasal dari hasil distilasi minyak bumi, sementara pelumas sintetis berasal dari proses Fischer-Tropsch Process yang menggabungkan Hydrogen dan Carbon. Pelumas Mineral dan Sintetis menurut API atau American Petroleum Institute dibagi ke dalam lima kelompok, diantaranya adalah:
Sebelum ada jawaban ya atau tidak, mari kita definisikan arti pelumas terlebih dahulu. Pelumas adalah zat kimia, yang umumnya adalah cairan, yang diberikan diantara dua benda bergerak untuk mengurangi gaya gesek. Pelumas pada umumnya dibagi ke dalam dua jenis, yaitu mineral dan sintetis. Pelumas mineral berasal dari hasil distilasi minyak bumi, sementara pelumas sintetis berasal dari proses Fischer-Tropsch Process yang menggabungkan Hydrogen dan Carbon. Pelumas Mineral dan Sintetis menurut API atau American Petroleum Institute dibagi ke dalam lima kelompok, diantaranya adalah:
- API Group I, Base Stock Mineral dengan teknologi proses distilasi fraksi mineral parafin, dengan teknologi tersebut, minyak bumi akan bertambah ketahanan oksidasinya dan juga menyingkirkan zat-zat yang merusak Base Stock tersebut. Proses Distillation dan Solvent Refined tersebut akan meningkatkan VI atau Viscosity Index menjadi 80 – 119, Sulphur > 0.03%, Saturates < 90%.
- API Group II, Base Stock Mineral dengan teknologi proses sama seperti Group I tetapi ditambahkan dengan Hydrokracked Technology. Dalam hal ini, Base Stock menjadi lebih murni dan lebih mudah untuk ditambahkan additives. Salah satu merek pelumas yang menggunakan Group II Base Stock adalah Shell™ Rotella® dan Pennzoil® PureBase® Perlu diketahui, Royal Dutch Shell adalah pemilik dari Pennzoil dan Quaker State. Dengan teknologi Distillation, Solvent Refined, dan Hydrocraked, maka nilai VI atau Viscosity Index menjadi 80 – 119, Sulphur < 0.03%, Saturates > 90%.
- API Group III, Base Stock ini digadang-gadangkan menjadi salah satu pelopor pelumas dengan Synthetic Technology yang berasal dari Mineral Oil. Teknologi ini dipakai luas oleh banyak Pabrikan pelumas SuperMajor (British Petroleum, Chevron, ConocoPhillips, ExxonMobil, Royal Dutch Shell, Total), salah satu yang paling terkenal dan fenomenal adalah Base Stock milik Suncor PetroCanada yang menyatakan bahwa pelumas mereka memiliki Base Stock yang murni. Group III sendiri sudah digantikan dengan Group III+ atau VHVI yang merupakan singkatan Very High Enhanced Viscosity Index. Teknologi proses yang digunakan adalah sama dengan Group II tetapi ditambahkan teknologi Hydroisomer, sehingga menjadikan Base Stock dengan 99% Saturasi dan 1% Aromatik. Dengan teknologi Distillation, Solvent Refined, Hyrdokracked, dan Hydroisomer, maka nilai VI atau Viscosity Index menjadi ≥120. Di pasaran dunia, Group III+ dipasarkan dengan nama Fully-Synthetic Lubricant, yang common usernya adalah SuperMajor. Ada perbedaan antara pasaran dunia dan Eropa, pasaran dunia Oli Group III+ dapat disebut sebagai Fully-Synthetic, sementara di Eropa Oli Group III+ hanya boleh disebut Synthetic Technology. Untuk membedakannya, bisa dibuka http://www.total.fr/ dimana oli yang dijual sebagian besar di luar Eropa disebut sebagai Fully-Synthetic, maka di Perancis hanya disebut Lubrifiant technologie de synthèse atau Synthetic Technology Lubricant. Di Eropa hanya Group IV dan Group V yang boleh di label dengan Fully-Synthetic Lubricant.
- API Group IV, Base Stock ini adalah hasil katalisasi antara Hydrogen dan juga Carbon baik dengan Fischer-Tropsch Process atau proses pembentukan olefin lainnya. Base Stock ini dinamakan PAO atau PolyAlphaOlefin, disebut PAO karena bahan dasarnya adalah Olefin. Pengguna Base Stock ini sangatlah jarang, mereka yang menggunakan Base Stock ini biasanya adalah pelumas dengan kategori Top Tier atau Premium. Salah satu pengguna PAO adalah Amsoil Signature Series, Mobil 1, dan Yacco dengan jajaran pelumas Top Tier Mereka. PAO sangat sulit ditambahkan soluble additives, sehingga additives yang bisa ditambah biasanya adalah logam alkali, alkali tanah, atau logam transisi seperti Molybdenum dan Titanium. Logam alkali ditambahkan adalah supaya menambah retensi pelumas untuk menahan asam yang terbentuk saat pembakaran terjadi. PAO memiliki karakteristik yang paling unik, karena memiliki Titik Beku yang rendah hingga -53 C dan Titik Bakar yang tinggi, hingga 270 C. pelumas ini tidak mengandung sulphur karena dibuat murni dari Hidrogen dan Carbon, dan memiliki Viscosity Index di atas 140.
- PAO ini dikenal sebagai Base Stock ngambekan, alasannya adalah selain pembuatannya sulit, yaitu apabila oli dengan PAO Based akan dibuat maka bahan-bahan seperti additives pack harus dicampur sebelum menjadi oli. Seperti kita membuat cake, apabila kurang atau kelebihan bahan, maka cake tersebut tidak enak dan tidak bisa dimodifikasi. PAO juga sangat rewel apabila bertemu dengan racun sejenis Sulfur dan TEL atau Tetra-Ethyl-Lead, dan dia tidak bisa ditambah dengan post-mixed additives. PAO juga sangat licin apabila ditambahkan additive Boron Nitride sehingga sangat baik untuk mesin-mesin berbahan dasar Aluminum Silicon. Pada BMW disebut Alusil, pada Mercedes Benz disebut SILITEC, atau pada Yamaha disebut DiAsil. PAO dan Boron Nitride akan membentuk lapisan film sangat kuat dan licin, sehingga akan sangat baik untuk menambah performa mesin. Boron Nitride dan PAO tidak akan menyebabkan selip kopling, karena hanya bereaksi dengan logam Aluminum Silicon saja, tidak dengan komposit Kampas Kopling.
- API Group V, Base Stock ini biasanya diisi oleh Ester, prosesnya sendiri adalah dengan cara katalisasi asam yang dinamakan dibasic Ester, dengan Alkohol atau CH3OH sehingga dibentuklah Ester dari hasil katalisasi tersebut. Ester biasanya digunakan untuk kompetisi karena kemampuannya untuk mempercepat pembakaran dan juga meningkatkan performa mesin, sehingga mesin balap biasanya menggunakan Ester dan atau campuran PAO dan Ester. Ester memiliki ikatan film yang paling kuat, tetapi kelemahannya adalah umur pakainya cukup singkat, sehingga hanya cocok digunakan bagi Anda yang membutuhkan oli kompetisi. Ester juga berguna untuk ditambahkan ke PAO based supaya mudah untuk di campur dengan additives. cara mengetahui adanya Ester dalam pelumas adalah dengan melihat nilai oksidasi dan TAN dari pelumas tersebut. Sifat alami Ester adalah oksidan dan asam, sehingga nilai TAN pasti ada dalam pelumas tersebut. Salah satu yang terkenal antara lain adalah Redline, Motul, dan Maxima
Subscribe to:
Posts (Atom)